Ironi Dakwah (Syiar Islam) di Pedalaman

No comment 373 views

Melalui pengamatan kasat mata saja, sudah jelas terlihat kesenjangan kegiatan dakwah pengembangan syiar Islam antara di perkotaan dengan pedalaman, terutama lagi daerah terpencil. Di daerah perkotaaan, selain alternatif mengakses informasi bersifat dakwah relatif lebih mudah dan dari berbagai sumber. Kuantitas pelaku dakwah juga dapat dikatakan melimpah dibarengi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan metode yang mumpuni.

Mau yang bergelar akademik sekelas professor atau keluaran perguruan tinggi ternama luar negeri sekelas Universitas Al Azhar ataukah pendakwah sekaligus “pelawak”? Tinggal pilih saja. Sedangkan di daerah pedalaman keadaannya sangat jauh terbalik, dimana masyarakat sangat jarang tersentuh dakwah meskipun itu melalui khutbah Jum’at yang hanya satu kali dalam seminggu.
Disinilah ironisnya karena justeru masyarakat pedalamanlah yang note bene memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam sangat minim yang harus menjadi perhatian dakwah.

Makanya dengan ironi ini dakwah ini impact-nya juga jauh berbeda. Kalau masyarakat di kota, boleh jadi karena sudah sampai pada taraf over dosis menerima dakwah. Sudah banyak diantaranya pengurus masjid atau penyelenggara kegiatan keagamaan yang memilih-memilih dan tidak mau lagi kalau pendakwahnya hanya bergelar Strata Satu (S1). Bahkan ada yang justeru sudah lebih hebat disbanding pendakwah karena sudah berbalik menilai dan mengkritik kelemahan seorang pendakwah.
Sedangkan di pedalaman, masyarakat masih tetap berkutat dengan kondisi keberagamaan yang sangat memprihatinkan, termasuk pengetahuan paling dasar sekalipun tentang ajaran Islam. Bukan hal yang aneh kalau di pedalaman banyak orang tua yang masih buta tentang bagaimana cara berwudhu dan melaksanakan shalat yang benar. Jangan ditanya lagi tentang yang lainnya, termasuk kegiatan shalat berjamaah lima waktu di masjid karena untuk shalat berjamaah Jum’at saja yang sejatinya hanya satu kali dalam seminggu, terkadang ada tempat yang tidak melaksanakannya karena tidak adanya khatib atau yang mampu menjadi khatib. Di sisi lain justeru yang tetap menonjol adalah kepercayaan yang bersifat animisme yang tentunya sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Perlu Perhatian
Penulis merasa perlu mengemukakan ironi dakwah di pedalaman karena sepertinya realitas ini masih jarang menjadi perhatian, termasuk oleh pihak-pihak yang sejatinya memiliki keterkaitan dan tanggung jawab di bidang pengembangan syiar Islam. Padahal kalau dipikir, bagaimanapun juga masyarakat di pedalaman yang secara de jure adalah Islam (dilihat dari KTP-nya) merupakan bagian dari tanggung jawab para sebagaian muslim lainnya untuk memperbaiki tingkat aqidah dan keimanan mereka (Q.S. Al Imran: 104).

Memang tidak dimungkiri juga kalau telah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Di antaranya upaya yang dilakukan pihak Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dengan menempatkan penyuluh Agama Islam pada setiap desa. Kemudian ada juga yang dilakukan oleh pihak perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Baik dengan menetapkan sebuah desa sebagai desa binaan, maupun mengalokasikan mahasiswanya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada daerah-daerah pedalaman. Termasuk juga disini ada upaya dari pihak pesantren yang mendistribusikan santrinya pada bulan Ramadhan untuk melaksanakan kegiatan dakwah di daerah-daerah pedalaman.

Namun upaya-upaya tersebut masih memiliki beberapa kelemahan dan kendala dalam pelaksanaannya sehingga hasilnya tidak efektif. Misalnya untuk tenaga penyuluh yang ditempatkan oleh pihak Kemenag pada setiap desa. Kendalanya karena jumlah penyuluh yang biasanya hanya satu orang per desa tidak seimbang dengan jumlah masyarakat yang akan diberikan penyuluhan. Ditambah lagi dengan persoalan motivasi penyuluh yang masih rendah karena reward-nya tidak seberapa. Sedangkan tempat untuk melaksanakan kegiatan dakwah, tidak jarang lokasinya sangat jauh dan medannya berat.

Sedangkan kendalanya dari sisi upaya yang dilakukan oleh perguruan tinggi melalui program desa binaan dan KKN adalah karena tentunya tidak semua desa yang ada di pedalaman tersebut dapat dijadikan sebagai desa binaan, apalagi juga dan belum semua PTAI juga melakukannya. Program KKN juga demikian karena selain format KKN itu sendiri tidak difokuskan betul-betul untuk kegiatan dakwah, juga tidak semua mahasiswa KKN yang diterjunkan pada desa-desa di pedalaman memiliki kemampuan di bidang dakwah, terutama yang memiliki kemampuan khusus menjadi khatib pada kegiatan shalat Jum’at. Begitupula upaya yang dilakukan oleh pihak pesantren yang mendistribusikan santrinya pada waktu tertentu. Solusi ini juga belum dapat mengatasi permasalahan dakwah di pedalaman karena sifatnya hanya insidentil pada waktu dan tempat tertentu saja. Padahal yang dibutuhkan disini adalah kegiatan dakwah yang berkesinambungan.

Beberapa Solusi
Intinya bahwa realitas kesenjangan dakwah di daerah pedalaman mesti dipikirkan solusinya karena kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka dapat saja melahirkan konsekwensi berupa terjadinya pelemahan terhadap ajaran Islam secara turun temurun kepada anak-anak mereka atau generasi berikutnya.

Ada beberapa hal disini yang sekiranya dapat ditawarkan sebagai solusinya yaitu: pertama, memaksimalkan dan mengefektifkan program dari pihak Kemenag yang menempatkan penyuluh Agama Islam pada setiap desa. Perlu kiranya terpikir disini untuk menambah jumlah personil penyuluh pada setiap desa atau kalau memungkinkan menempatkan penyuluh pada setiap dusun yang ditindaklanjuti dengan pemberian reward yang memadai untuk meningkatkan motivasi mereka. Disini memang tentunya terkait lagi dengan dana, tetapi untuk ini tidak ada salahnya bila dana sejenis yang dialokasikan di daerah perkotaan dialihkan ke daerah pedalaman. Di sektor perkotaan sebetulnya tidak perlu lagi ada penyuluh khusus karena masyarakatnya sudah mendapatkan dakwah dari berbagai sumber.

Kedua, merekondisi salah satu kegiatan pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi dengan cara membuat format KKN khusus untuk dakwah. Dimana mahasiswa KKN yang ditempatkan pada daerah pedalaman tersebut lebih difokuskan pada kegiatan dakwah dan untuk itu mahasiswa yang dialokasikan untuk melaskanakan KKN di daerah pedalaman adalah yang memang dianggap memiliki kemampuan khusus untuk dakwah, terutama disini adalah mahasiswa laki-laki.

Ketiga, adanya keterlibatan secara pro aktif bagi organisasi-organisasi sosial keagamaan dan organisasi yang menghimpun para pendakwah untuk mengakomodir dan memfasilitasi kegiatan berdakwah di daerah pedalaman dan jangan hanya fokus untuk menangani kegiatan dakwah di perkotaan saja.

Keempat, diharapkan timbulnya kesadaran kalangan yang memiliki kemampuan finansial berlebih untuk berperan dalam kegiatan dakwah di pedalaman. Pihak-pihak ini diharapkan juga ikut terlibat karena sebetulnya banyak dari kalangan ini yang memiliki kepedulian dan kerap mensponsori kegiatan dakwah. Misalnya membantu dan memfasilitasi sebuah kegiatan keagamaan untuk mendatangkan muballiq kondang yang lagi trend. Namun boleh jadi belum sempat terpikirkan untuk ikut mensponsori kegiatan dakwah untuk daerah pedalaman.
Kelima, tidak kalah pentingnya juga disini adalah keterlibatan dan kepedulian dari pihak-pihak yang terkait dengan eksistensi masyarakat seperti halnya pemerintah daerah, DPR, camat sampai kepala desa karena sebetulnya kondisi ini memang tidak efektif bila ditangani secara parsial oleh pihak-pihak tertentu saja

author
No Response

Leave a reply "Ironi Dakwah (Syiar Islam) di Pedalaman"